Sinopsis
Buku:
Administrasi Gereja
(Pdt. Dr. Yakub B. Susabda)
Pandangan
dan Persoalan Umum
Ø Sikap Gereja Pada Umumnya
Gereja-gereja Injili acuh tak acuh terhadap
masalah sekitar administrasi gereja. Mereka menganggap yang paling penting adalah
pemberitaan firman Tuhan. Menurut mereka administrasi gereja mematikan
kehidupan spiritual dari gereja dan hakikat gereja dari persekutuan orang-orang
percaya, tubuh Kristus, menjadi sebuah lembaga Kristen saja. Sedangkan
gereja-gereja non-Injili, memberi perhatian lebih tentang administrasi gereja
namun ada kecenderungan memakai administrasi gereja secara keliru. Pendeta
lebih mengutamakan hubungan dari kehadiran jemaat, pendapatan dari jemaat, dan
sebagainya dan mengabaikan kehidupan kerohanian jemaat bahkan kehidupan
kerohanian pendeta itu sendiri.
Ø Gambaran
Tentang Pendeta Sebagai Administrator
Tentang gambaran pendeta sebagai
administrator jemaat memiliki pemahaman yang sempit. Mereka hanya menganggap
tugas pendeta ialah menyusun program, menghadiri rapat, pelayanan
surat-menyurat dan sebagainya. Pendeta harus terlatih, kalau tidak pendeta bisa
melaksanakan semua yang diminta jemaatnya yang bukan pada porsinya.
Ø Dua Macam
Pelaksanaan Administrasi Gereja yang Ada Di Antara Gereja-gereja Sekarang Ini
Terbagi dua yaitu; yang pertama, didasarkan pada bentuk
administrasi gereja yang biasanya diusulkan dalam bentuk buku-buku atau melalui
ceramah-ceramah. Menyusun program yang lengkap untuk setiap kegiatan. Yang
kedua adalah didasarkan pada prinsip-prinsip administrasi yang benar.
Pentingnya adalah pemimpin gereja harus mengetahui sisi positif dan negatif
dari prinsip-prinsip administrasi gereja yang sudah diakatan benar.
Teologi:
Dasar-Dasar Administrasi Gereja
Administrasi
gereja adalah pertanggungjawaban pemimpin gereja dalam menyediakan wadah yang
tepat di mana inkarnasi firman itu menjadi kenyataan. Fungsinya adalah
,enentukan dan menetapkan apa tujuan misi gereja, kemudian menyiapkan jalan
utnuk mencapai tujuan itu. Administrasi gereja tidak pernah berdiri sendiri dan
harus disertai dengan teologi. Teologi tentang keberadaan dan panggilan gereja
adalah dasar-dasar utama dari administrasi gereja. Administrasi gereja yang
benar paling tidak harus diabngun atas teologi yang dikembangkan dari dua
pengertian yang benar tentang hakikat gereja. Yang pertama, gereja adalah
persekutuan dari orang-orang yang dipilih Allah dan yang kedua adalah gereja
sebagai tubuh Kristus.
Strategi:
Sikap Gereja dalam Mengatur
Sistem
Pertanggungjawaban Administrasi Gereja
Strategi adalah aspek yang penting dan tidak
boleh diabaikan, ketika memperbaharui dan membangun administrasi gereja. Setiap
gereja menentukan sikapnya sendiri. Dan kebijakan gereja itulah strateginya
dalam mengatur pelaksanaan administrasi gereja. Gereja apostolik memegang enam
prinsip sebagai sister pertanggungjawaban administrasi gereja merekaya, yaitu:
-
Pemilihan oleh segenap anggota jemaat
-
Persamaan antara bishop dan tua-tua
-
Lebih dari satu tua-tua di jemaat lokal
-
Penahbisan pejabat gereja dilakukan oleh banyak tua-tua
-
Kekuasaan untuk memutuskan sesuatu adalah kekuasaan bersama
-
Kristus adalah kepala gereja
Sedangkan gereja masa kini berpegang pada 3 prinsip
yaitu, Kristus adalah kepala gereja, Tua-tua adalah pemimpin organisasi gereja,
dan fleksibilitas.
Perencanaan
(Planning) Seluruh Kegiatan Gereja
Gereja adalah persekutuan dari orang-orang
yang sudah diselamatkan, yang dipilih Allah menjadi kawan-kawan sekerja-Nya.
Gereja bertanggung jawab untuk mempersiapkan orang-orang percaya, supaya mereka
tidak hidup sebagai orang yang diselamatkan saja tetapi betul-betul menjadi
rekan sekerja Allah. Segala aktivitas gereja memiliki fungsi mempersiapkan
mereka untuk melayani dan melibatkan mereka dalam pelayanan.
Gereja adalah partner Allah dalam melengkapi
orang-orang percaya. Setiap orang yang sudah diselamatkan sedang berada dalam
fase di mana Allah mau memakai mereka menjadi kawan sekerja-Nya. Pergumulan orang
percaya sangat berat, oleh karena itu gereja harus menolong mereka dengan cara
antara lain adalah melindungi dan menolong mereka mengalahkan hambatan-hambatan
dalam pertumbuhan mereka, serta menolong mereka untuk terus-menerus bertumbuh
dalam keselamatan supaya mereka makin berlayak untuk menjadi kawan-kawan
sekerja Allah (menambahkan iman, kebajikan, pengetahuan, penguasaan diri,
kesabaran kesalehan, dan kasih).
Pelaksanaan
Praktis dari Administrasi Gereja
Langkah-langkah
dalam proses administrasi:
-
Mengenali kebutuhan yang ada
-
Perencanaan
-
Pengorganisasian
-
Perangsangan
-
Pengevaluasian
Gereja adalah tubuh Kristus, setiap kegiatan
harus mempunyai tujuan dan arah yang sama. Oleh sebab itu, program kerja
tahunan komisi perlu dibuat oleh majelis bersama dengan pemimpin atau pengurus
tiap komisi supaya betul-betul menjadi alat yang membantu majelis dalam
membangun tubuh Kristus. Yang harus dilakukan antara lain; menentukan waktu,
dengan dasar pengertian tentang pelayanan gereja mengevaluasi, menyeleksi, dan
memperbaharui prencanaan program kerja setiap komisi. Juga mengatur pemakaian
ruangan-ruangan di kompleks gereja, serta memakai tiga sumber materi
bersama-sama menyusun program kerja tahunan (kegiatan rutin, kegiatan khusus,
dan kegiatan umum).
Setiap rapat gerejawi harus diatandai dengan
adanya persekutuan doa dan kesadaran akan kehadiran Roh Allah yang mengontrol
suasana rapat serta ada peranan yang sentral dari firman Allah yang mengarahkan
setiap pokok pembicaraan dalam rapat.
Prinsip-prinsip memimpin rapat harus
diperhatikan oleh pemimpin rapat gerejawi.
Harus mengerti dan mengenal peraturan-peraturan gereja, tempat ia
melayani. Mengerti da mengenal peraturan-peraturan rapat gerejawi pada umumnya
(persiapan, jalannya rapat). Dan harus mengerti bagaimana menciptakan suasana
interaksi rapat yang penuh kasih.
Menyimpan dan memelihara arsip sangat penting
dan menjadi tanggung jawab administrasi yang tidak boleh diabaikan karena itu
adalah bukti sampai di mana gereja itu sudah mempertanggungjawabkan pelayananan
kepada Tuhan. maka yang perlu diperhatikan dalam penyimpanan arsip adalah harus
mengerti apa yang perlu diarsipkan oleh gereja dan oleh pendeta. Cara
menyimpannya adalah memilih sistem penyimpanan arsip yang sesuai dengan kondisi
jemaat atau pribadi pendeta dan menyediakan budget khusus untuk itu.
Gereja adalah kumpulan kesatuan dari anggota-anggota
tubuh yang telah mendapatkan talenta yang berbeda-beda (Rm. 12:1, I Kor. 12,
Ef. 4). untuk membangun tubuh Kristus. Gereja baru benar-benar menjadi gereja
kalau setiap anggota tumbuh, berfungsi membangun dan mewujudkan kehadiran
Kristus di muka bumi. Gereja adalah tempat untuk mempersiapkan dan melatih
orang-orang percaya untuk tugas memperdamaikan seluruh ciptaan dengan Allah.
Mengenai hal disiplin gereja, memecat,
mengistirahatkan atau memutasikan adalah wujud dari disiplin yang seringkali
juga disebut siasat gereja. Itu bukanlah suatu tindakan hukuman, bukanlah
ekspresi dari kebencian melainkan suatu tindakan kasih, dapat dilaksanakan oleh
pendeta atau majelis, orang-orang saleh, dan seluruh jemaat. baru dapat
dilaksanakan setelah melalui pertimbangan-pertimbangan yang matang, dan
dikenakan atas persoalan-persoalan (pertengkaran, sengaja tidak mau menerapkan
firman Tuhan, memecah belah gereja, dan
sebagainya). Hal ini dapat diakhiri atau dibatalkan karena setiap orang berdosa
yang bertobat harusditerima kembali. Dan bagian internal dari hakikat gereja
yaitu gereja tanpa disiplin bukanlah gereja yang benar.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar