Rabu, 18 Maret 2015

Sinopsis Buku:
Administrasi Gereja
(Pdt. Dr. Yakub B. Susabda)


Pandangan dan Persoalan Umum
Ø  Sikap Gereja Pada Umumnya
Gereja-gereja Injili acuh tak acuh terhadap masalah sekitar administrasi gereja. Mereka menganggap yang paling penting adalah pemberitaan firman Tuhan. Menurut mereka administrasi gereja mematikan kehidupan spiritual dari gereja dan hakikat gereja dari persekutuan orang-orang percaya, tubuh Kristus, menjadi sebuah lembaga Kristen saja. Sedangkan gereja-gereja non-Injili, memberi perhatian lebih tentang administrasi gereja namun ada kecenderungan memakai administrasi gereja secara keliru. Pendeta lebih mengutamakan hubungan dari kehadiran jemaat, pendapatan dari jemaat, dan sebagainya dan mengabaikan kehidupan kerohanian jemaat bahkan kehidupan kerohanian pendeta itu sendiri.
Ø  Gambaran Tentang Pendeta Sebagai Administrator
Tentang gambaran pendeta sebagai administrator jemaat memiliki pemahaman yang sempit. Mereka hanya menganggap tugas pendeta ialah menyusun program, menghadiri rapat, pelayanan surat-menyurat dan sebagainya. Pendeta harus terlatih, kalau tidak pendeta bisa melaksanakan semua yang diminta jemaatnya yang bukan pada porsinya.
Ø  Dua Macam Pelaksanaan Administrasi Gereja yang Ada Di Antara Gereja-gereja Sekarang Ini
Terbagi dua yaitu; yang pertama, didasarkan pada bentuk administrasi gereja yang biasanya diusulkan dalam bentuk buku-buku atau melalui ceramah-ceramah. Menyusun program yang lengkap untuk setiap kegiatan. Yang kedua adalah didasarkan pada prinsip-prinsip administrasi yang benar. Pentingnya adalah pemimpin gereja harus mengetahui sisi positif dan negatif dari prinsip-prinsip administrasi gereja yang sudah diakatan benar.
Teologi: Dasar-Dasar Administrasi Gereja
            Administrasi gereja adalah pertanggungjawaban pemimpin gereja dalam menyediakan wadah yang tepat di mana inkarnasi firman itu menjadi kenyataan. Fungsinya adalah ,enentukan dan menetapkan apa tujuan misi gereja, kemudian menyiapkan jalan utnuk mencapai tujuan itu. Administrasi gereja tidak pernah berdiri sendiri dan harus disertai dengan teologi. Teologi tentang keberadaan dan panggilan gereja adalah dasar-dasar utama dari administrasi gereja. Administrasi gereja yang benar paling tidak harus diabngun atas teologi yang dikembangkan dari dua pengertian yang benar tentang hakikat gereja. Yang pertama, gereja adalah persekutuan dari orang-orang yang dipilih Allah dan yang kedua adalah gereja sebagai tubuh Kristus.
Strategi: Sikap Gereja dalam Mengatur
Sistem Pertanggungjawaban Administrasi Gereja
Strategi adalah aspek yang penting dan tidak boleh diabaikan, ketika memperbaharui dan membangun administrasi gereja. Setiap gereja menentukan sikapnya sendiri. Dan kebijakan gereja itulah strateginya dalam mengatur pelaksanaan administrasi gereja. Gereja apostolik memegang enam prinsip sebagai sister pertanggungjawaban administrasi gereja merekaya, yaitu:
-          Pemilihan oleh segenap anggota jemaat
-          Persamaan antara bishop dan tua-tua
-          Lebih dari satu tua-tua di jemaat lokal
-          Penahbisan pejabat gereja dilakukan oleh banyak tua-tua
-          Kekuasaan untuk memutuskan sesuatu adalah kekuasaan bersama
-          Kristus adalah kepala gereja
Sedangkan gereja masa kini berpegang pada 3 prinsip yaitu, Kristus adalah kepala gereja, Tua-tua adalah pemimpin organisasi gereja, dan fleksibilitas.
Perencanaan (Planning) Seluruh Kegiatan Gereja
Gereja adalah persekutuan dari orang-orang yang sudah diselamatkan, yang dipilih Allah menjadi kawan-kawan sekerja-Nya. Gereja bertanggung jawab untuk mempersiapkan orang-orang percaya, supaya mereka tidak hidup sebagai orang yang diselamatkan saja tetapi betul-betul menjadi rekan sekerja Allah. Segala aktivitas gereja memiliki fungsi mempersiapkan mereka untuk melayani dan melibatkan mereka dalam pelayanan.
Gereja adalah partner Allah dalam melengkapi orang-orang percaya. Setiap orang yang sudah diselamatkan sedang berada dalam fase di mana Allah mau memakai mereka menjadi kawan sekerja-Nya. Pergumulan orang percaya sangat berat, oleh karena itu gereja harus menolong mereka dengan cara antara lain adalah melindungi dan menolong mereka mengalahkan hambatan-hambatan dalam pertumbuhan mereka, serta menolong mereka untuk terus-menerus bertumbuh dalam keselamatan supaya mereka makin berlayak untuk menjadi kawan-kawan sekerja Allah (menambahkan iman, kebajikan, pengetahuan, penguasaan diri, kesabaran kesalehan, dan kasih).
Pelaksanaan Praktis dari Administrasi Gereja
Langkah-langkah dalam proses administrasi:
-          Mengenali kebutuhan yang ada
-          Perencanaan
-          Pengorganisasian
-          Perangsangan
-          Pengevaluasian
Gereja adalah tubuh Kristus, setiap kegiatan harus mempunyai tujuan dan arah yang sama. Oleh sebab itu, program kerja tahunan komisi perlu dibuat oleh majelis bersama dengan pemimpin atau pengurus tiap komisi supaya betul-betul menjadi alat yang membantu majelis dalam membangun tubuh Kristus. Yang harus dilakukan antara lain; menentukan waktu, dengan dasar pengertian tentang pelayanan gereja mengevaluasi, menyeleksi, dan memperbaharui prencanaan program kerja setiap komisi. Juga mengatur pemakaian ruangan-ruangan di kompleks gereja, serta memakai tiga sumber materi bersama-sama menyusun program kerja tahunan (kegiatan rutin, kegiatan khusus, dan kegiatan umum).
Setiap rapat gerejawi harus diatandai dengan adanya persekutuan doa dan kesadaran akan kehadiran Roh Allah yang mengontrol suasana rapat serta ada peranan yang sentral dari firman Allah yang mengarahkan setiap pokok pembicaraan dalam rapat.
Prinsip-prinsip memimpin rapat harus diperhatikan oleh pemimpin rapat gerejawi.  Harus mengerti dan mengenal peraturan-peraturan gereja, tempat ia melayani. Mengerti da mengenal peraturan-peraturan rapat gerejawi pada umumnya (persiapan, jalannya rapat). Dan harus mengerti bagaimana menciptakan suasana interaksi rapat yang penuh kasih.
Menyimpan dan memelihara arsip sangat penting dan menjadi tanggung jawab administrasi yang tidak boleh diabaikan karena itu adalah bukti sampai di mana gereja itu sudah mempertanggungjawabkan pelayananan kepada Tuhan. maka yang perlu diperhatikan dalam penyimpanan arsip adalah harus mengerti apa yang perlu diarsipkan oleh gereja dan oleh pendeta. Cara menyimpannya adalah memilih sistem penyimpanan arsip yang sesuai dengan kondisi jemaat atau pribadi pendeta dan menyediakan budget khusus untuk itu.
Gereja adalah kumpulan kesatuan dari anggota-anggota tubuh yang telah mendapatkan talenta yang berbeda-beda (Rm. 12:1, I Kor. 12, Ef. 4). untuk membangun tubuh Kristus. Gereja baru benar-benar menjadi gereja kalau setiap anggota tumbuh, berfungsi membangun dan mewujudkan kehadiran Kristus di muka bumi. Gereja adalah tempat untuk mempersiapkan dan melatih orang-orang percaya untuk tugas memperdamaikan seluruh ciptaan dengan Allah.

Mengenai hal disiplin gereja, memecat, mengistirahatkan atau memutasikan adalah wujud dari disiplin yang seringkali juga disebut siasat gereja. Itu bukanlah suatu tindakan hukuman, bukanlah ekspresi dari kebencian melainkan suatu tindakan kasih, dapat dilaksanakan oleh pendeta atau majelis, orang-orang saleh, dan seluruh jemaat. baru dapat dilaksanakan setelah melalui pertimbangan-pertimbangan yang matang, dan dikenakan atas persoalan-persoalan (pertengkaran, sengaja tidak mau menerapkan firman Tuhan,  memecah belah gereja, dan sebagainya). Hal ini dapat diakhiri atau dibatalkan karena setiap orang berdosa yang bertobat harusditerima kembali. Dan bagian internal dari hakikat gereja yaitu gereja tanpa disiplin bukanlah gereja yang benar.